Kamis, 23 Oktober 2014

Apa itu Khawarij dan 8 Ciri-Cirinya

Istilah khowarij semakin popular akhir-akhir ini.

Setelah sejumlah kelompok menggelari pejuang Islam yang melawan kezaliman penguasanya yang menolak syariat Islam sebagai khowarij.

Atau sejumlah aktifis yang memberikan kritik dan menuntut kemashlahatan mereka dengan aksi massa digelari khowarij karena melawan pemerintah. Juga munculnya sejumlah kelompok yang mengumbar takfir terhadap pihak-pihak yang dianggap menyimpang dari kalangan muslimin. Ringkasnya, istilah khowarij sudah diumbar dan disematkan dengan cara hak maupun batil.

Para ulama telah membicarakan tentang ciri-ciri utama kelompok ini, namun semua itu hanya kriteria-kriteria yang mendekati hakikat mereka, petunjuk-petunjuk yang mengindikasikan kelompok ini sepanjang zaman.

Syaikh ‘Ammar al-Shoyashinah dalam tulisannya “Sifat-sifat Khawarij dalam Sunnah Nabawiyah” menyebutkan 8 sifat kelompok khawarij yang paling menonjol.

1. Pertama, kelompok ini didominasi orang-orang yang berusia muda. Sedikit sekali orang tua atau sesepuh yang berilmu dan berpengalaman di tengah-tengah mereka. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan, Hudatsa’ al-Asnan. Al-Hafidz Ibnul Hajar dalam Fathul Baari (12287) berkata, “al-Hadats adalah berusia muda.”

2. Kedua
, terlalu berani berkomentar (sembrono) dan minus ilmu. Umumnya kelompok khawarij dan anak-anak muda yang mengadopsi pemikiran mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat tinggi dalam beragama, namun mereka suka terburu-buru dan tidak sabar. Mereka mudah berkomentar, menyimpulkan hukum dari satu masalah, dan mudah menghakimi. Padahal mereka tidak menguasai disiplin ilmu syar’i dan kaidah-kaidah hukum, berpandangan pendek, berwawasan sempit, dan tidak memiliki bashirah. Sinyal ini terdapat dalam sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tenang sifat mereka, “Hudtsa’ al-Asnan, Sufaha’ al-Ahlam”. Yakni berusia muda dan berpikiran pendek, sempit, dan sembrono.

Hal ini menunjukkan bahwa kematangan usia dan pengalaman hidup itu mempengaruhi kepribadian, kemampuan membaca situasi dan menyimpulkannya.

. . . Umumnya kelompok khawarij dan anak-anak muda yang mengadopsi pemikiran mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat tinggi dalam beragama, namun mereka suka terburu-buru dan tidak sabar.

Mereka mudah berkomentar, menyimpulkan hukum dari satu masalah, dan mudah menghakimi. . .

3. Ketiga, berbangga diri (sombong) dan merasa tinggi (hebat). Mereka terlalu membanggakan kemampuan diri dan amal mereka sehingga mereka sering memamerkan jasa dan aktifitas mereka. Mereka merasa yang paling pintar sehingga suka merendahkan para ulama. Menghadapi persoalan dan peristiwa tanpa mau melakukan investigasi dan menelusuri kasusnya, dan tidak mau kembali kepada ulama di bidangnya.




4. Keempat, memiliki semangat tinggi dalam ibadah. Mereka adalah orang-orang yang rajin shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, banyak berdzikir, dan berkorban untuk dien ini. Semua ini yang membuat mereka tertipu dan berbangga diri. Sehingga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memperingatkan para sahabatnya tentang sifat khawarij, bahwa kuantitas tilawah, shalat dan puasa para sahabat tidak ada apa-apanya di hadapan amal-amal mereka. (HR. Muslim)

5. Kelima, salah memahami ayat-ayat Al-Qur'an bersamaan dengan seringnya mereka membacanya. Kaum khawarij sering menampilkan Al-Qur'an dan berdalil dengannya, tapi tanpa dibarengi ilmu dan pemahaman yang benar. Mereka sering meletakkan ayat bukan pada tempatnya. Sehingga disifati oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “mereka membaca Al-Qur'an tapi Al-Qur'an itu tidak melampui tenggorokan mereka.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan maksudnya, “Bacaan Al-Qur'an mereka tidak membawa manfaat untuk mereka kecuali melewati lisan mereka saja, bacaan itu tidak sampai kepada hati mereka.”

6. Keenam
, hebat dalam beretorika dan orasi. Kalimat-kalimat mereka sangat bagus dan indah. Mereka ahli berargumen dan menyeru kepada tahkim syariah sehingga hukum itu dikembalikan kepada Allah dan mengajak memerangi orang murtad dan kafir. Tapi perbuatan mereka menyalahi perkataannya. Orang-orang murtad dan kafir menurut mereka tidak seperti yang dipahami para ulama. Serampangan dalam menghukumi kafir dan murtad. Sehingga lebih senang menumpahkan darah sesama muslim yang dianggap kafir daripada menghadapi orang kafir asli yang tak diragukan lagi kekafirannya.

7. Ketujuh, takfir (gampang mengafirkan pihak lain dari kaum muslimin) dan menghalalkan darah mereka. Ini sifat khas mereka yang membedakan dari selainnya. Mereka mengafirkan seenaknya dan menghalalkan darah orang-orang yang berbeda dengannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan tentang mereka, “Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala.” (Muttafaq ‘Alaih)

Karena sebab inilah, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat mencela kaum khawarij. Hal ini karena mereka menghukumi kafir orang-orang yang menyalahi kesimpulan mereka. Saat mereka menghukumi kafir kaum muslimin tersebut, maka mereka menghalalkan darah kaum muslimin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa berkata, “Sesungguhnya mereka menghalalkan darah ahli kiblat (orang Islam) karena mereka meyakini bahwa mereka telah murtad, dan ini lebih banyak daripada mereka menghalalkan darah orang-orang kafir (asli) yang tidak murtad.”

8. Kedelapan, suka tampil beda dari yang lain baik dalam berpakaian, berperilaku dan slogan-slogan. Seperti pada zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, mereka suka menggunduli rambut. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengabarkan cirri mereka ini, “Ciri khas mereka adalah mencukur habis rabutnya.”
(HR. Al-Bukhari).

sumber: voa-islam.com

Rabu, 22 Oktober 2014

Apa Hukum Selamatan Sesudah Pulang Haji

Ibadah haji diwajibkan atas orang yang mampu mengadakan perjalanan ke baitullah, Makkah Al-Mukaramah.

Pelaksanaannya pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan, menjadikan ibadah ini tidak bisa dijalankan setiap muslim. Keutamaan yang dijanjikan juga sangat stimewa, dari diampuni dosa-dosa sampai jaminan surga bagi yang mampu melaksanakannya dengan sempurna, “Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka wajar, penghargaan sangat tinggi diberikan kepada ibadah ini dan siapa yang mampu melaksanakannya.

Kebahagiaan dan kebanggaan atas ibadah ini diwujudkan sebagian orang dengan mengadakan walimah, baik sebelum berangkat atau sesudah pulang. Terkhusus saat pulang haji, ia menyelenggarakan walimah dengan mengundang sejumlah orang untuk tasyakuran dengan acara makan-makan dan membagi hadiah.

Apa hukumnya, sunnah ataukah wajib?




Mengadakan walimah sebelum dan sesudah haji bukan perkara wajib maupun sunnah. Tidak satu nash yang menunjukkan perintah ini secara khusus, tidak ada pula larangan yang jelas. Sedangkan kegiatan ini bukan bagian dari ubudiyah, tapi perkara ‘adiyah (adat kebiasaan). Karenanya, hukum asal mubah (boleh-boleh) saja.

Namun dengan syarat tidak diyakini sebagai amal sunnah. Syarat lainnya, jangan berlebihan, menghambur-hamburkan harta dan tidak terlalu membebani diri.

Wallahu A’lam.

sumber: voa-islam.com

Label

cerita hikmah (28) Doa (39) hadits (205) haji (7) Islam (220) Makhluk halus (4) Malaikat (1) mukjizat (3) Nabi (2) Puasa (29) qur'an (172) Rasulullah (8) sahabat nabi (11) Shalat (35) Tafsir Mimpi (20) teladan (19) Zakat (1)

Entri Populer