Jumat, 22 Agustus 2014

4 Hadits Tentang Pelunasan Hutang Almarhum

Hutang adalah sesuatu yang harus dibayar sendiri oleh yang bersangkutan. Tapi bagaimana kalau yang bersangkutan meninggal dunia, ternyata juga tetap harus dilunasi oleh yang bersangkutan lewat ahli warisnya yang masih ada.

Semua telah sepakat bahwa hutang adalah masalah. Banyak berhutang berarti mengumpulkan banyak masalah. Untuk itulah, syariat mengingatkan agar manusia tidak menjadikan hutang sebagai solusi penyelesaian masalah ekonominya, kecuali dalam keadaan sangat terdesak.

Berikut 4 Hadits Tentang Pelunasan Hutang Almarhum/almarhumah


Pertama: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda:

نَفْسُ المُؤْمِن مُعَلَّقَةٌ بِدَينِهِ حَتَّى يُقضَى عَنهُ

“Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya, sampai (utang itu) dilunasi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ Ash-Shaghir, no. 6779)

Kedua: Nabi SAW senantiasa memohon perlindungan agar tidak terlilit hutang. Di antara doa beliau:

اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالـمَـغْــرَمِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang.”

Seorang sahabat bertanya, “Mengapa engkau, wahai Rasulullah, sering memohon perlindungan dari lilitan hutang (dengan membaca doa di atas)?”

Beliau menjawab,

إن الرجل إذا غرم حدث فكذب ووعد فأخلف

“Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang, jika dia berbicara maka dia berdusta dan jika dia berjanji maka dia ingkari.” (HR. Bukhari, no. 798)

Ketiga: Dosa orang yang mati syahid akan diampuni oleh Allah, kecuali hutang.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW, “Jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku terhapus?”

Rasulullah SAW menjawab:

نَعَم، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُـحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلَّا الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيهِ السَّلَامُ قَالَ لِي ذَلِكَ

“Ya, jika kamu bersabar, mengharap pahala dari Allah SWT, tetap maju, dan tidak melarikan diri. Kecuali, hutang. Begitulah Malaikat Jibril menyampaikan kepadaku.” (HR. Muslim, no. 1885)

Keempat: Hutang menjadi beban bagi jiwa.

Dari Uqbah bin Amir ra, Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تُخِيفُوا أَنْفُسَكُم بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: الدَّيْنَ

“Janganlah kalian menakut-nakuti diri kalian setelah mendapatkan keamanan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Hutang.” (HR. Ahmad; dinilai hasan oleh Al-Albani).

Karena itu, bagi Anda yang punya hutang, jadikan beban hutang itu di depan pelupuk mata Anda, dan berusahalah untuk melunasi sesegera mungkin. Berdoalah kepada Allah SWT, agar bisa segera membebaskan Anda dari jeratan utang.



Rasulullah SAW bersabda:

من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله عليه

“Siapa saja yang meminjam harta orang lain dengan niat mengembalikannya, niscaya Allah SWT akan melunasi hutangnya. Siapa yang meminjam harta orang lain untuk memusnahkannya (dia habiskan) maka Allah SWT akan memusnahkannya.” (HR. Bukhari)
Kaidah yang berlaku ketika seseorang memegang harta orang lain adalah dikembalikan ke pemiliknya, jika sudah tidak ada maka diserahkan ke ahli waris yang terdekat dengannya, jika tidak memungkinkan untuk menemui mereka, maka disedekahkan atas nama pemilik harta itu.

Imam Nawawi mengatakan:

قَالَ الْغَزَالِيُّ إذَا كَانَ مَعَهُ مَالٌ حَرَامٌ وَأَرَادَ التَّوْبَةَ وَالْبَرَاءَةَ مِنْهُ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ وَجَبَ صَرْفُهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى وَكِيلِهِ فَإِنْ كَانَ مَيِّتًا وَجَبَ دَفْعُهُ إلَى وَارِثِهِ وَإِنْ كَانَ لِمَالِكٍ لَا يَعْرِفُهُ وَيَئِسَ مِنْ

مَعْرِفَتِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَهُ فِي مَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّةِ كَالْقَنَاطِرِ وَالرُّبُطِ وَالْمَسَاجِدِ وَمَصَالِحِ طَرِيقِ مَكَّةَ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَشْتَرِكُ الْمُسْلِمُونَ فِيهِ وَإِلَّا فَيَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى فَقِيرٍ أَوْ فُقَرَاءَ

“Ghazali menyebutkan, barangsiapa yang menyimpan harta haram dan ia hendak bertaubat dari perbuatannya serta hendak berlepas diri dari harta haram tersebut, hendaklah ia mencari si pemilik sah harta itu; Apabila pemilik sah sudah meninggal, hendaknya harta itu diserahkan kepada ahli warisnya. Namun jika si pemilik sah dan ahli warisnya tidak diketahui juga, hendaknya harta tersebut disalurkan pada maslahat kaum Muslimin, seperti untuk membangun jembatan, masjid, menjaga perbatasan negara Islam, dan sektor lain yang bermanfaat untuk segenap kaum Muslimin. Bahkan boleh juga ia sumbangkan kepada fakir miskin.” (Nawawi, Majmu’ Syarh Muhazzab, 9:351). [santi/islampos/konsultasisyariah]

sumber: islampos.com
editor: hikmah teladan.

Kamis, 21 Agustus 2014

Kisah Air Mata Penyelamat

Sungguh menarik kisah seorang hamba ini. Bagaimanapun juga kebaikan sekecil apapun itu bisa dijadikan penyelamat kelah di hari pengadilan. Hamba ini hanya sekali saja menangis di malam hari karena merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan dan bisa membantu menyelamatkannya dari vonis bersalah.

Telah diceritakan bahwa ada di hari pembalasan kelak, seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah. “Tidak! demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”

“Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa pun kecuali aku dan suaramu.”


“Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat. Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yang memandangi.” Disusul oleh telinga, “Saya yang mendengarkan.” Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.” Bibir mengaku, ”Saya yang merayu.” Lidah menambah, “Saya yang mengisap.” Tangan meneruskan, “Saya yang meraba.” Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.” “Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu,” ucap malaikat.

Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya, “Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.” “Silahkan,” kata malaikat.



“Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”

Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni surga, “Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87). [rika/islampos/markazqu]

sumber: islampos.com
editor: hikmah teladan.

Label

cerita hikmah (28) Doa (38) hadits (203) haji (6) Islam (191) Makhluk halus (4) Malaikat (1) mukjizat (3) Nabi (2) Puasa (29) qur'an (169) Rasulullah (8) sahabat nabi (10) Shalat (33) Tafsir Mimpi (20) teladan (18) Zakat (1)