Sore itu, warung saya kedatangan Pak Hadi, seorang kurir pengiriman yang selalu singgah untuk minum es teh setelah routes-nya selesai. Saya perhatikan, dia selalu memarkir motornya dengan rapi, melepas helm pelan-pelan, dan tidak pernah terburu-buru meski masih ada beberapa paket yang harus diantar.
Di luar, sekelompok anak muda baru saja melintas dengan motor yang dimodifikasi, mengebut, memotong jalan, dan membunyikan klakson dengan keras.
 |
| "Setir di tanganmu adalah amanah, dan jalan di depanmu adalah ujian kesabaran. 🛣️" |
Saya menuangkan teh untuk Pak Hadi dan berkata, "Anak muda sekarang kalau di jalan ngebut banget ya, Pak. Kayak dikejar waktu."
Pak Hadi tersenyum tipis, menyeruput tehnya, lalu menjawab: "Mas, rezeki itu sudah diatur, nggak akan tertukar. Tapi nyawa itu nggak ada suku cadangnya. Kalau rusak, ya selesai. Saya mending pelan tapi sampai rumah bisa cium kening istri, daripada cepat tapi pulang tinggal nama."
Jawaban sederhana itu menohok saya. Malam ini, mari kita bedah kenapa berhati-hati di jalan dalam Islam bukan sekadar soal tilang polisi atau aturan lalu lintas, melainkan sebuah ibadah dan bentuk cinta kepada keluarga. 🛣️
🐪 1. Kaidah "Ikat Untamu, Baru Bertawakkal" (Ikhtiar Sebelum Pasrah)
Ada sebuah hadits masyhur yang sangat relevan dengan kondisi jalan raya hari ini. Suatu hari, Rasulullah ﷺ melihat seorang Badui meninggalkan untanya tanpa diikat, lalu berdoa, "Aku bertawakkal kepada Allah."
Rasulullah ﷺ lantas menegurnya:
"Ikatlah untamu, baru kemudian bertawakkal." (HR. Tirmidzi)
Hikmahnya: Berhati-hati di jalan adalah bentuk ikhtiar (usaha) kita "mengikat unta".
Mengecek rem sebelum berangkat, memakai helm, memakai sabuk pengaman, dan menaati rambu lalu lintas adalah wujud ikhtiar. Kalau kita ugal-ugalan di jalan sambil berkata "Ah, biar Allah yang lindungi", itu bukan tawakkal. Itu menantang takdir. Allah menyuruh kita berikhtiar sekuat tenaga, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
🛡️ 2. Menjaga Nyawa adalah Tujuan Utama Syariat (Hifz an-Nafs)
Dalam ilmu Maqasid Syariah (tujuan diturunkannya hukum Islam), ada lima hal pokok yang harus dijaga, dan salah satu yang paling utama adalah Hifz an-Nafs (Menjaga Jiwa/Nyawa).
Allah SWT berfirman dengan sangat tegas:
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..." (QS. Al-Baqarah: 195)
Ngebut, melawan arus, atau berkendara sambil main HP adalah bentuk "menjatuhkan diri dalam kebinasaan". Dalam Islam, membahayakan nyawa sendiri tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah perbuatan yang dilarang. Berhati-hati di jalan adalah cara kita berterima kasih kepada Allah atas titipan nyawa yang sangat mahal ini.
🚫 3. Kaidah "Jangan Membahayakan Diri Sendiri dan Orang Lain"
Rasulullah ﷺ menetapkan sebuah kaidah emas dalam bermasyarakat:
"La dharara wa la dhirar." (Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain). (HR. Ibnu Majah)
Jalan raya adalah ruang publik. Saat kita ugal-ugalan, kita tidak hanya menaruh nyawa kita di ujung tanduk, tapi kita juga mengancam nyawa orang lain — bapak-bapak yang sedang mencari nafkah, ibu-ibu yang sedang mengantar anak sekolah, atau pejalan kaki yang sedang menyeberang.
Menyetir dengan sabar dan hati-hati adalah bentuk sedekah keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita.
🏠 4. Menunaikan Hak Keluarga yang Menunggu di Rumah
Seringkali kita lupa bahwa saat kita keluar rumah, ada hak yang melekat pada diri kita: hak istri yang menunggu suaminya pulang, hak anak yang menunggu ayahnya mengajari PR, hak orang tua yang menanti kabar anaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Cukuplah dikatakan berdosa bagi seseorang jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Abu Dawud)
Kecelakaan di jalan sering kali merenggut bukan cuma satu nyawa, tapi merenggut masa depan sebuah keluarga. Berhati-hati di jalan adalah cara kita berkata: "Ya Allah, aku ingin pulang dengan selamat karena ada keluarga yang berhak aku bahagiakan dan aku nafkahi."
🤲 5. Doa sebagai "Sabuk Pengaman" dari Langit
Islam mengajarkan kita untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah, termasuk saat memutar kunci kontak. Ada doa keluar rumah yang sangat indah dan menjadi pelindung dari malaikat:
Bismillahi, tawakkaltu 'alallah, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.
(Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).
Dalam sebuah hadits disebutkan, ketika doa ini diucapkan, malaikat akan berkata: "Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi." Setan pun akan menjauh dari orang tersebut. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Gabungan antara doa (sandaran langit) dan kehati-hatian (usaha bumi) adalah resep perjalanan yang paling berkah.
💭 Renungan Penjaga Warung: Jalanan Adalah Ujian Kesabaran
Sebagai penjaga warung yang tiap hari melihat orang berlalu-lalang, saya sering merenung: jalanan itu sebenarnya adalah miniatur kehidupan.
Di jalan, kita diuji kesabarannya saat macet. Kita diuji keikhlasannya saat disalip secara kasar. Kita diuji empatinya saat melihat orang mogok atau menyeberang.
Orang yang berhati-hati di jalan bukanlah orang yang penakut atau tidak punya urusan. Justru, ia adalah orang yang paling menghargai waktu dan kehidupan. Ia tahu bahwa sampai di tujuan dengan selamat, dengan hati yang tenang, jauh lebih berharga daripada sampai lebih cepat dua menit tapi membawa emosi dan membahayakan orang lain.
Maka Bos, besok pagi saat Bos memanaskan kendaraan, cobalah luangkan waktu 10 detik.
Periksa spion, pakai helm atau sabuk pengaman, baca Bismillah, dan niatkan dalam hati: "Ya Allah, jadikan perjalananku hari ini sebagai jalan menjemput rezeki yang halal, dan kembalikan aku ke rumah dengan selamat agar aku bisa memeluk keluargaku."
Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya perjalanan bukanlah yang paling cepat sampai, melainkan yang pulang membawa cerita, bukan membawa petaka. 🛣️🤍
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ustadz. Tulisan ini adalah renungan (tadabbur) yang dirangkum dari ayat Al-Qur'an, hadits shahih, dan kaidah fikih dasar untuk memotivasi adab berkendara. Matur nuwun!*
📖 KAMUS KECIL