Jujur saja, saya harus mengakui sebuah kelemahan saya di depan Bos sekalian.
Beberapa waktu lalu, saya mentransfer sejumlah uang untuk donasi sebuah panti asuhan. Setelah transfer berhasil, ada sebuah bisikan halus di hati saya: "Screenshot dong, Mas. Lumayan buat di-upload di status WhatsApp atau story Instagram, biar yang lain ikut tergerak donasi juga."
 |
| "Biarlah dunia tidak tahu, asalkan Langit mengenali kita. 🤍" |
Saya pun melakukannya. Saya tutupi nominalnya sedikit, kasih stiker emoji, lalu upload. Notifikasi view dan reply mulai berdatangan. "MasyaAllah, Mas", "Semoga rezekinya dilancarkan".
Hati saya senang. Tapi beberapa detik kemudian, ada rasa sesak yang aneh di dada. Saya bertanya pada diri sendiri: Tadi saya donasi karena Allah, atau karena ingin dipuji orang-orang di layar HP ini?
Di zaman sekarang, berbuat baik itu punya godaan baru yang tidak dihadapi oleh orang-orang saleh terdahulu: Godaan untuk dipamerkan. Rasanya, sedekah itu jadi kurang "afdhal" kalau tidak ada bukti digitalnya. Kita terjebak dalam budaya di mana kebaikan harus divalidasi dengan likes dan views.
🌙 Cermin dari Tengah Malam Madinah
Saat kegelisahan itu muncul, saya teringat pada kisah Umar bin Khattab r.a. yang memikul karung tepung di tengah malam (Baca kisah lengkapnya di sini: Umar dan Karung Tepung di Tengah Malam). Umar adalah pemimpin yang menguasai wilayah dari Mesir hingga Persia. Kalau beliau mau, beliau bisa saja membagikan tepung itu di siang hari, di atas mimbar, disaksikan oleh para pejabat dan rakyat banyak. Reputasinya akan meroket. Orang-orang akan memujinya sebagai pemimpin paling dermawan.
Tapi beliau memilih malam. Beliau memilih gelap. Beliau memilih untuk tidak dikenal oleh ibu yang beliau bantu.
Mengapa? Karena Umar tahu satu rahasia besar tentang hati manusia: Kebaikan yang dipamerkan itu ibarat parfum yang disemprotkan ke arah angin. Wanginya cepat hilang, dan yang tertinggal hanya botol kosong bernama kesombongan.
🤳 Dilema Media Sosial: Menyembunyikan atau Menunjukkan?
Lalu, apakah berarti kita haram hukumnya memposting kegiatan sosial di media sosial?
Tentu tidak. Agama kita itu indah dan realistis. Al-Qur'an sendiri memberi panduan yang sangat brilian:
"Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu." (QS. Al-Baqarah: 271)
Menunjukkan itu boleh (misalnya untuk menginspirasi orang lain atau laporan transparansi lembaga zakat). Tapi menyembunyikan itu jauh lebih aman untuk menyelamatkan hati kita dari penyakit riya' (pamer).
Masalahnya, di era media sosial, batas antara "menginspirasi" dan "pamer" itu setipis tisu. Niat awal mungkin ingin menginspirasi, tapi kalau postingannya sepi yang like, kok hati kita jadi uring-uringan? Nah, kalau sudah begitu, berarti "penyakit" itu sudah masuk.
🛡️ 3 Jurus Menjaga Hati di Era Digital
Sebagai orang awam yang hatinya masih sangat mudah bolak-balik, saya mencoba menerapkan 3 "rem" ini supaya kebaikan saya tidak hangus terbakar likes:
1. Aturan "Tangan Kanan dan Tangan Kiri"
Saya mencoba mempraktikkan hadits Nabi: "Sedekah yang tangan kanan memberikan, tangan kiri tidak boleh tahu." Kalau saya transfer donasi online, saya usahakan tidak di-screenshot. Kalaupun harus dicatat untuk laporan keuangan pribadi, saya simpan di folder tersembunyi, bukan di story.
2. Sedekah ke Mereka yang "Tidak Bisa Membalas di Medsos"
Cobalah sesekali memberi kepada mereka yang tidak akan membalas kebaikanmu dengan pujian di internet. Beri makan kucing jalanan. Selipkan uang di bawah keset rumah tetangga janda yang sepi. Bayarkan belanjaan orang tua di warung secara diam-diam. Kebaikan yang tidak punya "saksi manusia" biasanya paling cepat sampai ke langit.
3. Puasa Upload 24 Jam
Kalau habis berbuat baik dan rasanya gatal banget ingin posting, tahan dulu 24 jam. Biasanya, setelah sehari berlalu, rasa ingin pamer itu akan luntur, dan kita akan bersyukur tidak mempostingnya.
💡 Penutup: Kebaikan yang Bertahan
Media sosial suatu saat akan kita tinggalkan. Akun kita akan mati, likes akan tertimbun, dan orang-orang akan lupa pada story yang kita buat hari ini.
Yang akan menemani kita di alam kubur nanti bukanlah berapa banyak orang yang memuji kita di kolom komentar, melainkan amal-amal sunyi yang kita lakukan di saat tidak ada satu pun manusia yang melihat.
Mari belajar dari Umar di malam yang gelap itu. Biarlah dunia tidak tahu siapa kita, asalkan Langit mengenali kita. 🤍
🙏 Catatan Kecil: Tulisan ini adalah teguran untuk diri saya sendiri yang masih sering terjebak riya' di media sosial. Saya bukan ustaz, hanya penjaga toko yang sedang belajar menata hati. Jika ada yang salah, mohon tegur saya dengan lembut di kolom komentar.
📖 KAMUS KECIL
- Riya' — Melakukan ibadah atau kebaikan dengan niat ingin dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena Allah.
- Ikhlas — Memurnikan niat hanya untuk Allah, tidak mengharapkan pujian maupun imbalan dari makhluk.
- Sedekah Sirri — Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan dan menjaga harga diri penerimanya.