Coba buka lemari pakaianmu. Mungkin ada puluhan baju: baju kerja, baju Lebaran, baju kondangan, baju tidur. Kita menghabiskan banyak uang dan waktu untuk memilih "pakaian" — karena pakaian adalah cara kita menunjukkan diri pada dunia.
 |
| "Dari puluhan pakaian di lemari, hanya satu yang kita bawa pergi. 🌿" |
Tapi pernahkah kita merenungkan satu fakta yang sederhana sekaligus menohok ini:
Dari puluhan pakaian di lemari itu, hanya SATU yang akan kita bawa pergi. Dan itu bukan yang paling mahal. Itu adalah kain kafan.
Orang Jawa melantunkan kebenaran ini dalam Syi'ir Tanpo Waton: "Ing pepaese gebyare ndunyo, utuh mayite ugo ulese" — di tengah hiasan gemerlap dunia, pada akhirnya yang utuh hanya jasad dan kain kafannya. (Kisah lengkap di balik syi'ir yang dipopulerkan Gus Dur ini bisa Bos baca di Blog Uswah Islam: Utuh Mayite Ugo Ulese.) Dunia Itu "Pepaes", Bukan "Pakaian"
Kesalahan terbesar kita adalah menganggap dunia sebagai "pakaian" — sesuatu yang melekat pada diri kita. Padahal dunia hanyalah pepaes: hiasan sementara yang dipinjamkan.
Al-Qur'an menggambarkan dengan sangat jujur:
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak..." (QS. Al-Hadid [57]: 20)
Perhiasan. Bukan identitas. Bukan tujuan.
Iri pada "Pepaes" Orang Lain? Rugi Dua Kali
Syi'ir itu melanjutkan: "Iri lan meri sugihe tonggo, mulo atine peteng lan nistho" — iri dan dengki pada kekayaan tetangga hanya membuat hati gelap dan hina.
Pikirkan: kita iri pada "hiasan" orang lain, padahal kita tahu hiasan itu tidak akan dibawa mati — baik oleh dia, maupun oleh kita. Rugi dua kali: hati kita gelap sekarang, dan yang kita irikan pun tidak kekal.
Di sinilah letak hubungannya dengan dua watak yang pernah kita bahas:
- Orang yang cethil menggenggam dunia erat-erat, seolah kafannya bisa ditambah saku untuk menyimpan harta. (Baca: Arti Cethil)
- Orang yang legawa membuka tangannya, karena paham bahwa tidak ada "pepaes" dunia yang layak digenggam sampai mati. (Baca: Legawa: Tingkat Tertinggi dari Melepaskan)
Lalu, Bagaimana Seharusnya Kita Hidup?
Bukan dengan membuang dunia. Tapi dengan meletakkan dunia pada tempatnya. Ini beberapa "rem hati" yang bisa kita pasang:
- Syukuri yang ada, jangan hitung yang belum. Hati yang bersyukur tidak punya ruang untuk iri.
- Bekerja sepenuh hati, tapi genggam dengan jari terbuka. Cari rejeki sebanyak-banyaknya, tapi jangan sampai rejeki itu yang memiliki kita.
- Ingat "pakaian terakhir" saat sedang kalap belanja. Tidak untuk mengharamkan kesenangan, tapi untuk menata prioritas.
- Sisihkan "pepaes" untuk orang lain. Sedekah adalah cara mengubah hiasan sementara menjadi bekal abadi.
Penutup: Berpakaianlah yang Rapi, Tapi Berkemaslah yang Pasti
Tidak ada yang salah dengan memakai pakaian bagus — Nabi ﷺ pun menyukai keindahan dan melarang penampilan yang kusut. Yang salah adalah hati yang tertipu, yang mengira pakaian dunia adalah dirinya yang sebenarnya.
Jadi besok pagi, saat Bos bercermin dan merapikan pakaian, bolehlah tersenyum pada bayangan sendiri. Tapi bisikkan juga pelan-pelan:
"Ini hanya pepaes. Pakaian asliku sudah disiapkan. Semoga saat memakainya nanti, aku datang membawa hati yang utuh." 🤲
Renungan kecil: kalau hari ini kita hanya boleh membawa satu "bekal" dari semua yang kita miliki, apa yang paling siap kita bawa? Ceritakan di kolom komentar, mari saling menguatkan. 🤍
📖 KAMUS KECIL
- Pepaes — Hiasan, riasan; sesuatu yang memperindah tapi bukan hakikat.
- Gebyar — Gemerlap yang menyilaukan mata dan hati.
- Legawa — Hati yang lega dan lapang setelah melepaskan.
- Qanaah — Merasa cukup dengan pemberian Allah.
⚠️ Disclaimer: Admin bukan ustad. Tulisan ini refleksi pribadi untuk memotivasi diri. Untuk kajian mendalam, silakan merujuk pada ulama yang kompeten.
Artikel keren lainnya: