Jam 20.45 malam ini, bosku, warungku sudah mau tutup, lampu neon panjang di atas etalase kedip-kedip lagi.
Cetek... cetek... terang... gelap... terang... gelap...
Sudah 3 bulan begini, bosku. Aku pukul-pukul sedikit, nyala terang 10 menit, habis itu kedip lagi.
Anakku bilang, "Bapak, ganti baru saja, 35 ribu, malu dilihat orang, warung kedip-kedip seperti diskotik."
Aku bilang, "Jangan, Nak, biar kedip dulu, dia masih mau nyala, masih mau berjuang."
Malam ini aku duduk di bawah lampu kedip-kedip itu, dan aku belajar syukur dari neon yang hampir mati.
1. Lampu Kedip-Kedip Bukan Tanda Mati, Tapi Tanda Masih Mau Hidup
Neon warungku itu sudah tua, bosku, 2 tahun tidak ganti, ujungnya sudah hitam, starter-nya sudah lemah.
Kalau lampu baru, nyalanya langsung jreng, terang stabil, tidak kedip.
Kalau lampu hampir mati, nyalanya kedip-kedip, seperti orang tua napasnya sesak, mau nyala tapi tenaga sudah habis.
Tapi dia tetap nyala, bosku. Meski kedip, meski cetek-cetek, dia tetap kasih cahaya untuk warungku, untuk gorengan, untuk pembeli yang masih beli rokok ketengan jam 9 malam.
Hati kita juga begitu. Kadang iman kita kedip-kedip, kadang semangat kita kedip-kedip, kadang rezeki kita kedip-kedip, seperti neon mau mati.
Tapi selama masih kedip, artinya masih hidup. Selama masih kedip, artinya Allah masih kasih kesempatan nyala.
Jangan marah sama lampu kedip-kedip, syukuri dia masih mau nyala. Jangan marah sama hati yang kadang futur, syukuri hati masih mau terang, meski kedip.
2. Di Bawah Lampu Kedip-Kedip, Kita Jadi Tahu Siapa yang Betah dan Siapa yang Pergi
Warung terang benderang, semua orang betah, bosku. Warung kedip-kedip, baru ketahuan siapa yang tulus.
Slamet kenek, dia tetap nongkrong di bawah lampu kedip-kedip, minum kopi hitam, tidak protes, "Cak, lampunya kedip tidak apa-apa, yang penting kopinya panas."
Tapi ada pembeli lain, lihat lampu kedip-kedip, langsung bilang, "Wah warungnya mau tutup ya? Gelap." Langsung pergi ke Indomaret yang lampunya terang putih.
Lampu kedip-kedip itu seleksi alam, bosku. Dia saring siapa pelanggan yang butuh cahayamu, dan siapa yang cuma butuh terangmu.
Hidup juga begitu. Saat hidupmu terang, banyak teman. Saat hidupmu kedip-kedip, susah, sepi, baru ketahuan siapa yang betah duduk di kursi plastik biru warungmu meski lampu kedip.
Syukuri lampu kedip-kedip, karena dia tunjukkan siapa yang tulus, siapa yang cuma numpang terang.
3. Lampu Kedip-Kedip Ngajari Kita: Terang Tidak Harus Sempurna, yang Penting Ada
Aku pernah malu, bosku, warungku lampu kedip-kedip, warung sebelah lampu LED baru terang putih, seperti Alfamart.
Aku mikir, "Warungku jelek, lampu kedip-kedip, pembeli malu."
Tapi malam itu hujan deras, listrik desa mati 2 jam, semua warung gelap, Indomaret gelap, warung sebelah yang LED baru juga gelap karena tidak punya genset.
Warungku? Lampu neon kedip-kedip itu aku ganti pakai lampu senter cas 20 ribu, aku nyalakan, warungku satu-satunya yang ada cahaya kecil di kampung yang gelap.
Kenek-kenek yang kehujanan, ibu-ibu yang takut gelap, semua lari ke warungku, bukan karena terang, tapi karena ada cahaya, meski kecil, meski kedip.
Di kampung yang gelap gulita, cahaya kecil kedip-kedip lebih berharga dari lampu stadion yang mati.
Hikmahnya: jangan tunggu hati sempurna terang baru mau berbagi. Hati kedip-kedip pun kalau ada, bisa jadi cahaya untuk orang lain yang lagi gelap gulita. Jangan tunggu kaya baru sedekah, jangan tunggu alim baru dakwah, jangan tunggu lampu baru baru buka warung.
Lampu kedip-kedip saja buka warung, apalagi hati yang masih ada iman meski kedip.
4. Cara Memperbaiki Lampu Kedip-Kedip Sama Seperti Memperbaiki Hati yang Kedip
Tadi aku tanya tukang listrik langganan, "Kenapa neon kedip-kedip?"
Dia bilang 3 sebab:
1. Starter lemah: Harus diganti, 5 ribu saja.
2. Neon tua ujung hitam: Harus dibersihkan atau ganti baru.
3. Listrik tidak stabil: Harus cek kabel.
Hati kedip-kedip juga sama, bosku:
1. Starter lemah = Wudhu dan sholat lemah: Kalau wudhu jarang, sholat telat, hati jadi kedip. Ganti starter dengan wudhu lagi, sholat lagi, 5 menit saja, hati terang lagi.
2. Neon tua ujung hitam = Dosa numpuk: Ujung neon hitam karena lama dipakai, hati hitam karena dosa lama tidak istighfar. Bersihkan dengan istighfar, seperti bersihkan ujung neon.
3. Listrik tidak stabil = Lingkungan tidak stabil: Kalau tiap hari nongkrong dengan orang yang ngeluh terus, hati ikut kedip. Cek kabel pertemanan, dekatkan dengan yang terang.
Jadi malam ini aku tidak ganti neon dulu, aku ganti starter dulu 5 ribu, aku bersihkan ujungnya, aku cek kabelnya. Besok mungkin terang lagi. Kalau masih kedip, baru ganti baru 35 ribu. Hemat, tapi syukur.
Diary Jam 21.12 Malam di Bawah Neon Kedip
Sekarang jam 21.12, lampu neon warungku masih kedip-kedip, cetek... terang... cetek... gelap...
Aku tulis artikel ini di bawahnya, pakai cahaya kedip-kedip itu.
Aneh, bosku, di bawah lampu kedip-kedip, tulisan ini malah jadi lebih jujur. Karena aku tahu, lampu ini seperti aku: sudah tua, sudah capek, sudah hampir mati, tapi masih mau nyala untuk orang lain.
Lampu warung kedip-kedip tapi hati harus terang. Karena warung boleh kedip, tapi penjaganya tidak boleh ikut kedip. Warung boleh hampir mati, tapi doanya harus tetap hidup.
Kalau malam ini lampu rumahmu kedip-kedip, jangan langsung marah, jangan langsung ganti. Duduk dulu 5 menit di bawahnya, lihat kedipnya, dan bilang:
"Terima kasih ya, lampu, kamu sudah 2 tahun menemani warungku, kamu kedip-kedip tapi masih mau nyala, kamu hampir mati tapi masih kasih cahaya. Aku belajar dari kamu, meski aku hampir menyerah, aku harus tetap nyala, meski kedip."
Itu syukur, bosku. Syukur bukan saat lampu baru terang, tapi syukur saat lampu lama kedip tapi masih nyala.
Neon warungku kedip-kedip mau mati, tapi hatiku malam ini terang, karena aku masih bisa tulis, masih bisa buka warung, masih bisa syukur.
Dan itu cukup.
Disclaimer Hikmah
Artikel ini adalah renungan hikmah tentang lampu warung kedip-kedip tapi hati harus terang, belajar syukur dari neon yang hampir mati berdasarkan pengalaman nyata penjaga warung kelontong di Gresik yang lampu neonnya kedip-kedip 3 bulan belum ganti. Lampu neon kedip bisa disebabkan starter lemah, neon tua, atau listrik tidak stabil, jika kedip terus dan bau gosong, segera ganti dan cek instalasi listrik untuk cegah kebakaran. Jangan pukul-pukul lampu terus menerus, bahaya. Penulis adalah penjaga warung, bukan teknisi listrik dan bukan ustadz, tulisan ini adalah diary syukur, bukan panduan listrik. Semoga lampu warung kita semua terang, dan hati kita lebih terang dari lampu. Jika lampu kedip terus, ganti baru 35 ribu, jangan hemat sampai kebakaran.
Kamus Kecil
1. Neon Kedip-Kedip: Lampu TL panjang yang mau mati, nyala cetek-cetek.
2. Starter: Alat kecil 5 ribu yang bikin neon nyala, kalau lemah neon kedip.
3. Hati Kedip: Iman yang naik turun, kadang semangat kadang futur.
4. Kursi Plastik Biru: Saksi setia di bawah lampu kedip-kedip warung.
5. Syukur Kedip: Syukur saat tidak sempurna, syukur saat lampu hampir mati tapi masih nyala.
Belum ada tanggapan untuk "NEON WARUNGKU KEDIP-KEDIP MAU MATI, TAPI HATI TIDAK BOLEH IKUT KEDIP: Belajar Syukur dari Lampu yang Hampir Mati"
Posting Komentar