Jam 15.40 sore. Warungku sepi, bosku. Sepi yang benar-benar sepi, bukan sepi biasa.
Kipas angin bunyi krek-krek, cicak di dinding diam, jalan depan warung berdebu, tidak ada motor lewat. Gorengan pagi masih 4 biji, sudah dingin, minyaknya sudah beku. Teh di gelas sudah tidak ada uapnya.
Biasanya kalau warung sepi begini, pikiran pertama penjaga warung itu apa? "Wah, gara-gara warung Pak Haji di sebelah buka, pembeli lari ke sana." Atau "Gara-gara Indomaret baru buka di perempatan."
Aku dulu juga begitu. Menyalahkan warung sebelah, menyalahkan hujan, menyalahkan pemerintah. Padahal setelah aku duduk di kursi plastik biru yang kakinya diikat kawat ini lama-lama, aku baru paham.
Warung sepi itu bukan karena warung sebelah buka. Warung sepi itu teguran halus dari Allah.
1. Allah Tegur Lewat Sepi: "Kamu Lupa Istighfar Pagi Tadi"
Pagi tadi aku buka warung jam 6, langsung dapat rezeki beras 5 kilo, alhamdulillah. Tapi setelah itu aku lupa bilang alhamdulillah lagi. Aku hitung laba, aku susun rokok, aku scroll HP, aku lupa istighfar.
Maka jam 3 sore Allah buat sepi. Sepi itu jeda. Allah bilang pelan, "Wahai penjaga warung, kamu sibuk hitung uang, tapi lupa hitung dosa. Berhenti dulu, istighfar dulu."
Dalam Islam, rezeki itu bukan cuma datang karena kita buka rolling door. Rezeki datang karena Allah izinkan. Kalau Allah tahan sebentar, warung sepi, itu bukan Allah pelit, tapi Allah kangen mendengar kita bilang "Astaghfirullah".
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah akan jadikan setiap kesedihannya jalan keluar, dan setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah beri rezeki dari arah yang tidak disangka." (HR. Abu Daud)
Warung sepi adalah kesempitan. Obatnya bukan pasang spanduk besar, tapi perbanyak istighfar di kursi plastik biru itu.
2. Allah Tegur Lewat Sepi: "Kamu Kebanyakan Mengeluh, Kurang Bersyukur"
Kemarin warung laris, dapat 500 ribu. Aku masih ngeluh, "Ah, cuma 500 ribu, warung sebelah katanya 1 juta." Padahal 500 ribu itu sudah bisa beli beras sebulan.
Hari ini warung sepi, baru dapat 20 ribu dari jam 6 pagi sampai jam 3 sore. Baru terasa, oh ternyata 500 ribu kemarin itu banyak sekali, kenapa kemarin aku mengeluh?
Allah buat sepi hari ini supaya kita syukuri ramainya kemarin. Kalau tiap hari ramai terus, kita tidak pernah belajar syukur. Kalau sekali-sekali sepi, kita baru ingat nikmat ramai.
Di warungku, aku punya neon yang kedip-kedip mau mati. Kalau nyala terus, aku tidak peduli. Tapi kalau kedip-kedip mau mati, baru aku sadar, oh ternyata lampu itu penting. Warung sepi itu seperti lampu kedip-kedip, pengingat bahwa ramai itu nikmat yang harus disyukuri, bukan dikeluhkan.
3. Allah Tegur Lewat Sepi: "Jangan Iri dengan Warung Sebelah, Rezekimu Sudah Ditakar"
Ini penyakit penjaga warung, bosku. Warung sebelah buka, kita intip-intip. "Laku berapa dia? Kok rame? Jangan-jangan dia pakai penglaris?"
Astaghfirullah. Padahal dalam Islam, rezeki itu sudah ditakar, tidak akan tertukar. Rezeki warungku tidak akan pindah ke warung sebelah, dan rezeki warung sebelah tidak akan pindah ke warungku. Semua sudah ditulis di Lauhul Mahfuz.
Allah sepi-kan warungku hari ini bukan karena pembeli lari ke sebelah, tapi karena memang hari ini jatah rezekiku segini. Jatah rezeki warung sebelah hari ini memang lebih banyak, biar dia juga bisa bayar hutang kulakannya.
Kalau kita paham ini, hati tenang. Warung sepi tidak bikin iri, warung ramai tidak bikin sombong. Semua sudah takaran Allah.
Seperti air hujan, bosku. Ada yang dapat banyak, ada yang dapat sedikit, tapi semua kebagian. Tidak ada sawah yang tidak kebagian hujan kalau Allah sudah turunkan.
4. Apa yang Harus Dilakukan Penjaga Warung Saat Warung Sepi? (Bukan Pasang Penglaris)
Dulu aku kalau sepi, langsung panik, mau pasang jimat, mau panggil dukun. Sekarang tidak lagi. Ini yang aku lakukan kalau warung sepi jam 4 sore:
1. Wudhu dan Sholat Dhuha / Ashar di Warung:
Aku gelar sajadah di belakang etalase. Sholat 2 rakaat. Minta sama yang punya rezeki, bukan minta sama pembeli. Ajaib, bosku, setelah sholat, hati tenang, dan biasanya 10 menit setelah itu ada pembeli datang. Bukan karena sholatku hebat, tapi karena Allah lihat hambanya kembali.
2. Bereskan Warung Sambil Dzikir:
Jangan diam bengong lihat jalan. Sapu warung sambil istighfar, susun rokok sambil subhanallah, lap etalase sambil alhamdulillah. Warung yang dibersihkan sambil dzikir, auranya beda. Pembeli betah.
3. Sedekah Meski Sepi:
Ini berat, bosku. Warung sepi, uang cuma 20 ribu, suruh sedekah? Tapi aku coba. Aku kasih permen gratis ke anak kecil yang lewat, aku kasih 2 ribu ke pemulung. Logikanya rugi, tapi di Islam, sedekah saat sempit itu pahalanya besar dan pembuka rezeki. Sering setelah sedekah, ada pembeli besar datang.
4. Jangan Buka HP untuk Ghibah Warung Sebelah:
Godaan terbesar saat sepi adalah buka HP, lihat grup WA, ngomongin warung sebelah. Jangan. Itu bikin rezeki makin seret. Gunakan sepi untuk baca Quran 1 lembar, atau baca buku catatan hutang dan doakan orang yang hutang supaya dimudahkan bayar.
Penutup dari Kursi Plastik Biru Jam 16.10
Jam 16.10 sekarang, warung masih sepi. Tapi hatiku tidak sepi lagi. Karena aku sudah istighfar 33 kali, sudah bereskan etalase, sudah sholat ashar.
Aku tulis diary ini bukan karena warungku ramai, tapi karena warungku sepi. Justru saat sepi inilah Allah dekat.
Kalau warung ramai, kita dekat dengan pembeli. Kalau warung sepi, kita dekat dengan Allah. Dua-duanya baik, asal kita paham.
Jadi buat kamu yang hari ini warungnya sepi, tokomu sepi, lapakmu sepi, jangan sedih, bosku. Jangan salahin warung sebelah. Itu Allah sedang menyapa dengan halus.
Allah bilang, "Wahai penjaga warung, sini ngobrol dulu sama Aku, jangan ngobrol terus sama pembeli. Aku kangen."
Tutup kalkulatormu sebentar, buka sajadahmu. Rezeki yang sepi hari ini, bisa jadi diganti ramai berkali-lipat besok pagi jam 6, lewat ibu daster bunga-bunga yang beli beras 5 kilo.
Sepi itu bukan akhir, sepi itu jeda untuk kembali.
Disclaimer Hikmah
Artikel ini adalah tadabur hikmah warung sepi dalam Islam berdasarkan pengalaman pribadi penjaga warung kelontong di Gresik dan hadits tentang istighfar pembuka rezeki (HR. Abu Daud). Sepi dan ramai adalah takdir Allah, bukan karena penglaris atau hal gaib. Tulisan ini adalah pengingat untuk muhasabah dan memperbanyak ibadah saat dagang sepi, bukan untuk menyalahkan takdir. Penulis adalah penjaga warung, bukan ustadz. Untuk ilmu muamalah lebih dalam, silakan tanya ustadz di masjid terdekat. Semoga warung kita semua diberkahi.
Kamus Kecil
1. Teguran Halus: Cara Allah menyapa hamba lewat sepi, bukan lewat musibah besar.
2. Muhasabah: Intropeksi diri, menghitung kesalahan sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
3. Istighfar: Memohon ampun, kunci pembuka rezeki saat warung sepi.
4. Takaran Rezeki: Rezeki sudah ditakar Allah, tidak akan tertukar dengan warung sebelah.
5. Kursi Plastik Biru: Saksi bisu sepi ramainya warung, tempat terbaik untuk dzikir sore.
Belum ada tanggapan untuk " Warung Sepi Itu Teguran Halus dari Allah, Bukan Karena Warung Sebelah Buka "
Posting Komentar