Jakarta - Bulan Muharram sering dikaitkan dengan berbagai pantangan di masyarakat Indonesia. Mulai dari larangan menikah, bepergian jauh, hingga mengadakan pesta. Namun, benarkah semua pantangan tersebut ada dasar syar'inya? Atau hanya mitos belaka?
Artikel ini akan mengupas tuntas apa saja yang sebenarnya dilarang dan dianjurkam di bulan Muharram berdasarkan sumber yang sahih.
Muharram: Bulan Haram yang Dimuliakan
Sebelum membahas pantangan, penting untuk memahami keistimewaan bulan Muharram. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..." (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kata "haram" di sini berarti suci dan dimuliakan, bukan terlarang.
Pantangan yang Benar Ada Dasar Syar'i
1. Dilarang Berperang dan Bermusuhan
Para ulama sepakat bahwa pada awalnya, umat Islam dilarang berperang di bulan-bulan haram termasuk Muharram. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa larangan ini sudah tidak berlaku lagi setelah turunnya ayat-ayat tentang perang.
Dalil:
Allah SWT berfirman: "Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka..." (QS. At-Taubah: 5)
Kesimpulan: Larangan berperang di bulan haram sudah mansukh (dihapus) menurut jumhur ulama, kecuali sebagian kecil yang masih berpendapat makruh.
2. Dilarang Melakukan Maksiat dan Dosa
Ini adalah pantangan yang paling utama. Para ulama seperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah menjelaskan bahwa dosa di bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan bulan lainnya, demikian pula pahala amal shaleh lebih dilipatgandakan.
Penjelasan Ulama:
Imam Qatadah rahimahullah berkata: "Sesungguhnya berbuat zalim pada bulan-bulan haram lebih besar dosa dan kesalahannya daripada berbuat zalim di selain bulan-bulan tersebut."
Kesimpulan: Semua bentuk maksiat, dosa, dan kezaliman sangat dilarang di bulan Muharram karena dosanya dilipatgandakan.
3. Dilarang Berpuasa Seharian Hanya di Hari Asyura (10 Muharram)
Rasulullah SAW melarang umatnya untuk berpuasa hanya pada hari Jumat saja tanpa didahului atau diikuti hari lainnya. Demikian pula dengan hari Asyura, dianjurkan untuk berpuasa bersama tanggal 9 atau 11 Muharram.
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda: "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan (bersama hari kesepuluh)." (HR. Muslim)
Namun sebelum wafat, Rasulullah sudah menganjurkan untuk membedakan dengan Yahudi dengan berpuasa 9 dan 10 Muharram.
Kesimpulan: Makruh hukumnya berpuasa hanya 10 Muharram saja tanpa didahului 9 Muharram.
Pantangan yang Hanya Mitos dan Tidak Ada Dasar Syar'i
1. Mitos: Dilarang Menikah di Bulan Muharram
Fakta: Tidak ada satu pun dalil sahih yang melarang menikah di bulan Muharram. Ini adalah kepercayaan masyarakat yang tidak berdasar.
Penjelasan:
Bahkan, bulan Muharram adalah bulan yang baik untuk memulai kehidupan baru karena termasuk bulan haram yang dimuliakan. Tidak ada larangan syar'i untuk menikah di bulan ini.
Kesimpulan: BOLEH menikah di bulan Muharram. Ini hanya mitos tanpa dasar.
2. Mitos: Dilarang Bepergian atau Merantau
Fakta: Tidak ada larangan dalam Islam untuk bepergian atau merantau di bulan Muharram.
Penjelasan:
Islam tidak melarang aktivitas bepergian di bulan manapun, termasuk Muharram. Yang penting adalah menjaga keselamatan dan memperbanyak ibadah selama perjalanan.
Kesimpulan: BOLEH bepergian di bulan Muharram.
3. Mitos: Dilarang Membangun Rumah atau Renovasi
Fakta: Ini adalah kepercayaan masyarakat Jawa khususnya di bulan Suro (Muharram) yang tidak ada dasarnya dalam Islam.
Penjelasan:
Islam tidak mengenal larangan membangun rumah di bulan tertentu. Selama aktivitas tersebut bermanfaat dan tidak mengandung unsur maksiat, maka diperbolehkan.
Kesimpulan: BOLEH membangun atau merenovasi rumah di bulan Muharram.
4. Mitos: Dilarang Mengadakan Pesta atau Syukuran
Fakta: Tidak ada larangan mengadakan pesta pernikahan, syukuran, atau acara kegembiraan yang halal di bulan Muharram.
Penjelasan:
Yang dilarang adalah pesta yang mengandung maksiat, mubazir, atau hal-hal yang diharamkan. Bukan pestanya itu sendiri.
Kesimpulan: BOLEH mengadakan pesta yang halal dan sesuai syariat.
5. Mitos: Bulan Sial dan Penuh Bencana
Fakta: Ini adalah kepercayaan tahayul yang bertentangan dengan akidah Islam.
Penjelasan:
Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penyakit menular tanpa izin Allah, tidak ada shafar (kesialan), dan tidak ada.hamah..." (HR. Bukhari-Muslim)
Islam mengajarkan untuk bertawakkal, bukan percaya pada kesialan. Muharram adalah bulan yang dimuliakan, bukan bulan sial.
Kesimpulan: Ini adalah MITOS dan TAHAYUL yang harus ditinggalkan.
6. Mitos: Dilarang Memulai Usaha atau Pekerjaan Baru
Fakta: Tidak ada larangan syar'i untuk memulai usaha atau pekerjaan baru di bulan Muharram.
Penjelasan:
Justru Muharram adalah waktu yang baik untuk memulai hal-hal baru karena termasuk bulan yang dimuliakan Allah.
Kesimpulan: BOLEH dan bahkan BAIK memulai usaha baru di bulan Muharram.
Yang Seharusnya Dilakukan di Bulan Muharram
Daripada sibuk dengan pantangan yang tidak berdasar, lebih baik kita fokus pada amalan-amalan yang dianjurkan:
1. Memperbanyak Puasa Sunnah
- Puasa 9 dan 10 Muharram (Tasu'a dan Asyura)
- Puasa-puasa sunnah lainnya
2. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Muharram adalah waktu yang tepat untuk muhasabah dan bertaubat nasuha.
3. Meningkatkan Ibadah
- Shalat wajib dan sunnah
- Tilawah Al-Qur'an
- Dzikir dan doa
- Sedekah
4. Menjaga Lisan dan Perilaku
Hindari ghibah, fitnah, dusta, dan semua bentuk dosa lisan.
5. Menyambung Silaturahmi
Perbaiki hubungan yang retak dan perbanyak silaturahmi.
6. Berdoa di Awal Tahun
Panjatkan doa untuk kebaikan di tahun yang baru.
Tabel: Pantangan di Bulan Muharram
Nasihat Ulama
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah manifestasi dari ketakwaan hati."
Mengagungkan bulan Muharram bukan dengan percaya pada mitos dan tahayul, tetapi dengan:
- Meningkatkan ketaatan
- Menjauhi maksiat
- Memperbanyak amal shaleh
- Membersihkan hati dan jiwa
Kesimpulan
- Pantangan yang syar'i di bulan Muharram hanyalah larangan melakukan maksiat dan dosa, karena dosanya dilipatgandakan di bulan haram.
- Sebagian besar pantangan yang beredar di masyarakat (menikah, bepergian, bangun rumah, dll) adalah MITOS tanpa dasar syar'i.
- Jangan percaya pada kesialan bulan Muharram. Ini adalah bulan yang dimuliakan Allah, bukan bulan sial.
- Fokus pada amal shaleh dan peningkatan ibadah, bukan pada pantangan-pantangan yang tidak berdasar.
- Luruskan niat bahwa kita mengagungkan Muharram karena perintah Allah, bukan karena takut pada mitos.
Renungan:
Bulan Muharram adalah hadiah Allah untuk hamba-Nya yang ingin meningkatkan ketakwaan. Jangan sia-siakan dengan percaya pada mitos dan tahayul. Isi dengan amal shaleh, taubat, dan doa untuk kebaikan dunia akhirat.
"Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura, Allah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)
Tags: #PantanganMuharram #MitosMuharram #BulanMuharram #TahunBaruIslam #AmalanMuharram #Islam #Syariah #Muharram2026 #EdukasiIslam #LuruskanNiat
Tentang Artikel:
Artikel ini ditulis untuk meluruskan pemahaman masyarakat tentang pantangan bulan Muharram. Semoga dapat membedakan antara ajaran Islam yang sahih dengan mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar. Wallahu a'lam.
Referensi:
- Al-Qur'an Al-Karim
- Shahih Bukhari & Muslim
- Tafsir Ibnu Katsir
- Fiqih Sunnah - Sayyid Sabiq
- Majmu' Fatawa - Ibnu Taimiyah
Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat meluruskan pemahaman kita tentang bulan Muharram yang mulia!