Bagi umat Muslim, Azan dan Iqamah adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan shalat berjamaah. Jika Azan adalah seruan untuk memberitahu bahwa waktu shalat telah tiba, maka Iqamah adalah seruan bahwa shalat akan segera dilaksanakan.
Namun, tahukah Anda bagaimana asal mula iqamah disyariatkan dalam Islam? Sejarah di balik seruan "Qad qamatis shalah" ini sangat menarik dan sarat akan hikmah. Mari kita telusuri bersama. Apa Itu Iqamah?
Secara bahasa, iqamah (إقامة) berarti mendirikan atau menegakkan. Secara istilah, iqamah adalah seruan yang dibaca sesaat sebelum shalat fardhu berjamaah dimulai, dengan lafal dan tata cara tertentu yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Iqamah berfungsi sebagai tanda bagi para jamaah yang sudah berada di masjid untuk segera meluruskan saf dan bersiap melaksanakan shalat.
Sejarah dan Asal Mula Iqamah
Asal mula iqamah sangat berkaitan erat dengan sejarah disyariatkannya Azan. Peristiwa ini terjadi pada tahun pertama atau kedua Hijriah, ketika Rasulullah SAW dan para sahabat sudah hijrah ke Madinah.
1. Musyawarah Para Sahabat
Ketika kaum Muslimin di Madinah semakin banyak, mereka membutuhkan cara untuk mengumpulkan orang-orang guna melaksanakan shalat berjamaah. Rasulullah SAW pun bermusyawarah dengan para sahabat.
Beberapa usulan pun bermunculan:
- Ada yang mengusulkan menggunakan lonceng seperti yang dilakukan oleh umat Nasrani.
- Ada yang mengusulkan menggunakan terompet (syabbur) seperti yang dilakukan oleh umat Yahudi.
- Ada juga yang mengusulkan untuk menyalakan api di tempat tinggi sebagai isyarat, mirip dengan praktik orang Majusi.
Rasulullah SAW tidak menyetujui semua usulan tersebut karena ingin membedakan syiar Islam dari agama-agama sebelumnya.
2. Mimpi Abdullah bin Zaid
Di tengah kebimbangan tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk melalui mimpi salah satu sahabat, yaitu Abdullah bin Zaid bin Abdurabbih.
Dalam mimpinya, Abdullah bin Zaid melihat seorang malaikat (atau seseorang) membawa lonceng. Ia bertanya, "Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng ini?" Orang itu menjawab, "Apa yang akan engkau lakukan dengannya?" Abdullah menjawab, "Kami akan menggunakannya untuk mengumpulkan orang-orang shalat." Orang itu berkata, "Maukah aku tunjukkan cara yang lebih baik?" Abdullah mengiyakan.
Orang itu kemudian mengajarkan lafal Azan: Allahu Akbar, Allahu Akbar... hingga selesai. Kemudian, orang itu berkata:
"Tunggu sebentar, lalu berdirilah dan ucapkan (Iqamah):
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash shalah
Hayya 'alal falah
Qad qamatis shalah, qad qamatis shalah
Allahu Akbar, Allahu Akbar
La ilaha illallah"
3. Pengakuan Rasulullah SAW
Pagi harinya, Abdullah bin Zaid langsung menemui Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Berdirilah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang engkau lihat dalam mimpimu, karena suaranya lebih lantang dan merdu dari suaramu."
Abdullah bin Zaid pun mengajarkan lafal tersebut kepada Bilal bin Rabah, muadzin pertama dalam Islam. Bilal kemudian mengumandangkan Azan dan Iqamah untuk pertama kalinya di Madinah.
(Catatan: Terdapat riwayat lain dari Sahabat Umar bin Khattab yang menyatakan bahwa beliau juga melihat mimpi yang sama sebelum Abdullah bin Zaid, namun beliau mendiamkannya selama beberapa hari sebelum akhirnya diceritakan kepada Rasulullah SAW).
Hikmah di Balik Disyariatkannya Iqamah
Allah SWT dan Rasulullah SAW menetapkan Iqamah bukan tanpa alasan. Ada beberapa hikmah besar dari seruan kedua ini: 1. Membedakan Syiar Islam
Iqamah (dan Azan) menjadi identitas unik umat Islam. Tidak ada agama lain yang menggunakan seruan verbal yang mengandung unsur tauhid (kalimat syahadat) untuk memanggil umatnya beribadah.
2. Mengajak Setan Lari
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa ketika muadzin mengumandangkan Azan, setan akan lari dengan mengeluarkan kentut hingga tidak mendengar suara Azan. Hal ini juga berlaku untuk Iqamah, yang memastikan suasana shalat bersih dari gangguan setan.
3. Memberi Waktu Persiapan
Jeda waktu antara Azan dan Iqamah (sekitar 10-15 menit) memberikan waktu bagi orang yang berada di sekitar masjid untuk bersuci (wudhu), berjalan ke masjid, dan menenangkan hati sebelum berdiri di hadapan Allah.
4. Menegakkan Kedisiplinan Jamaah
Iqamah adalah aba-aba terakhir. Ketika "Qad qamatis shalah" (sesungguhnya shalat akan didirikan) dikumandangkan, para jamaah harus segera meluruskan saf dan tidak diperbolehkan lagi bercakap-cakap atau melakukan aktivitas lain. Ini melatih kedisiplinan dan kekompakan umat Islam.
Perbedaan Mendasar Azan dan Iqamah
Meskipun lafalnya hampir sama, Azan dan Iqamah memiliki perbedaan mendasar dalam fungsi dan cara pengucapannya:
Hukum dan Keutamaan Iqamah
Hukum Iqamah
Mayoritas ulama (Jumhur) berpendapat bahwa hukum Azan dan Iqamah adalah Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi laki-laki, baik shalat fardhu dilakukan secara berjamaah maupun munfarid (sendirian). Namun, Iqamah menjadi Fardhu Kifayah jika shalat dilakukan secara berjamaah di masjid. Bagi wanita, hukumnya adalah sunnah dan cukup diucapkan dengan suara lirih.
Keutamaan Mengumandangkan Iqamah
- Pahala yang Besar: Rasulullah SAW bersabda, "Muadzin akan diampuni dosanya sepanjang suara adzan (dan iqamah) nya mencapai..." (HR. Abu Daud).
- Doa Mustajab: Waktu antara Azan dan Iqamah adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.
- Ditunggu oleh Malaikat: Imam yang menunggu iqamah dan segera shalat akan mendapatkan pahala seperti shalat semalam penuh.
Kesimpulan
Asal mula iqamah bermula dari petunjuk Allah SWT melalui mimpi Abdullah bin Zaid, yang kemudian disempurnakan oleh Rasulullah SAW dan dikumandangkan pertama kali oleh Bilal bin Rabah.
Iqamah bukan sekadar formalitas sebelum shalat, melainkan syiar Islam yang agung, pengusir setan, dan tanda kedisiplinan umat Muslim dalam menegakkan tiang agama. Dengan memahami sejarahnya, semoga kita bisa lebih menghayati dan menghormati setiap lafal "Qad qamatis shalah" yang kita dengar.
Meta Description:
"Temukan sejarah dan asal mula iqamah dalam Islam. Dari mimpi Abdullah bin Zaid hingga perbedaannya dengan Azan. Baca artikel lengkapnya di sini!"
Tags:
Asal Mula Iqamah, Sejarah Iqamah, Azan dan Iqamah, Hukum Iqamah, Fiqih Shalat, Sejarah Islam, Bilal bin Rabah
Kata Kunci:
asal mula iqamah, sejarah iqamah, perbedaan azan dan iqamah, hukum iqamah, lafal iqamah, sejarah azan dan iqamah